Monday, 2 May 2016

bimbingan dan konseling

A.    PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
1.      PENGERTIAN BIMBINGAN
Bimbingan merupakan salah satu bidang dan program ini di tujukan untuk membantu mengoptimalkan perkembangan siswa. Menurut tolbert, bimbingan adalah seluruh program atau semua kegiatan dan layanan dalam lembaga pendidikan yang di arahkan pada membantu individu agar mereka dapat menyusun dan melaksanakan rencana serta melakukan penyesuaian diri dalam semua aspek kehidupannya sehari-hari. Bimbingan merupakan layanan khusus yang berbeda dengan pendidikan lainya.
2.      PENGERTIAN KONSELING
Konseling sebenarnya merupakan salah satu teknik atau layanan didalam bimbingan, tetapi teknik atau layanan ini sangat istimewa kerena sifatnya yang lentur atau fleksibel dan komprehensif.
Konseling merupakan salah satu teknik dalam bimbingan, tetapai merupakan teknik inti atau teknik kunci. Hal ini di karenakan konseling dapat memberikan perubahan yang mendasar yaitu mengubah sikap. Sikap mendasari perbuatan, pemikiran, pandangan, dan perasaan.
Menurut leona E. Tylor ada lima krakteristik yang sekaligus merupakan prinsip-prinsip konseling. Kelima karakteristik adalah:
a.       Konseling tidak sama dengan pemberian nasihat (advicement), sebab di dalam pemberian nasihat proses berfikir ada dan diberikan oleh penasihat, sedang dalam konseling berpikir dan pemecahan di temukan dan dilakukan oleh klien sendiri
b.      Konseling mengusahakan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental yang berkenaan dengan pola-pola hidup.
c.       Konseling lebih menyangkut sikap dari pada perbuatan atau tindakan.
d.      Konseling lebih berkenaan dengan penghayatan emosional dari pada pemecahan emosional.
e.       Konseling menyangkut juga hubungan klien dengan orang lain.
Konseling memegang peranan peranan penting dalam bimbingan, sering juga disebut sebagai jantungnya bimbingan, konseling sebagai inti bimbingan, konseling sebagai pusatnya bimbingan. Sebab dikatakan jantung, inti, atau pusat karena konseling ini merupakan layanan atau teknik bimbingan yang bersifat terapeutik atau bersifat menyambuhkan.
B.     TAHAP STUDI KELAYAKAN
Lembaga bimbingan dan konseling dalam intuisi pendidikan, mengetengahkan studi kelayakan sebagai fase penting untuk dilaksanakan. Studi kelayakan ini mengacu pada semua refleksi tentang alasan mengapa di perlukan suatu program dan kebutuhan siswa yang dapat dipenuhi melalui program itu, sekaligus di tentukan garis-garis kebijakan umum yang diambil di institusi pendidkan.
Beberapa hal yang perlu di analisis dalam studi kelayakan, seperti karakteristik diri klien, kebudayaan setempat serta kestrategisan lokasi.
Hal ini hendaknya di perkuat oleh setting riset yang valid. Adapun hal-hal sebagai pijakan untuk mempraktikan layanan BK, pada intinya adalah:
1.      Melakukan penelaahan kebutuhan untuk mengukur dan menafsirkan keinginan, sikap, keprcayaan, serta tingkah laku objek BK.
2.      Menentukan kebutuhan pokok objek BK yang akan dilayani.
3.      Memilih prioritas layanan dan subjek sasaran tertentu untuk memenuhi kebutuhan objek BK.

Studi kelayakan ini menjadi satu mata rantai dengan beberapa suborganisasi dan administrasiyang akan di bahas selanjutnya. Oleh karena itu, masalah studi kelayakan harus di kaji secara serius dan di letakan pada awal sebelum mendirikan lembaga BK.

C.     PERLUNYA BIMBINGAN DAN KONSELING
Bimbingan dan komseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukan bahwa manusia didalam kehidupannya menghadapi persoalan-peroalan silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, persoalan yang lain timbul. Demikian seterusnya. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuan. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpan bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan tanpa orang lain. Khususnya bagi yang terahir inilah BK sangat di perlukan.
Manusia perlu mengenal dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dengan mengenal diri sendiri, manusia akan dapat bertindak dengan tepat sesuai dengan kemampuanya. Namun demikian, tidak semua manusia mampu mengenal segala kemampuan dirinya. Mereka sangat memerlukan bantuan orang lain agar dapat mengenal diri sendiri, lengkap dengan segala kemampuan yang dimilikinya, dan bantuan ini dapat diberikan olek BK.
Kenyataan baik pada masyarakat yang belum maju maupun masyarakat yang modern menunjukan bahwa bimbingan dan konseling juga di perlukan. Untuk masyarakat modern persoalan-persolan yang timbul sanagtlah kompleks. Makin maju masyarakat maka akan  semakin kompleks persoalan-persoalan yang di hadapi oleh anggota masyarakatnya.

D.    PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING
Adapun prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Dasar bimbingan dan konseling di sekolah tidak terlepas dari dasar pada umumnya dan pendidikan di sekolah pada khususnya. Dasar dari pendidikan tidak dapat terlepas dari dasar negara dimana pendidikan itu di laksanakan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dasar dari bimbingan dan konseling di sekolah ialah PANCASILA dan UUD 1945.
b.      Fungsi bimbingan dan konseling dalam proses pendidikan dan pengajaran ialah membantu pendidikan dan pengajaran, oleh karena itu segala langkah bimbingan dan konseling harus sejalan dengan tujuan pendidikan.
c.       Bimbingan dan konseling di peruntukan bagi semua individu baik anak-anak maupun dewasa. Jadi bimbingan dan konseling tidak terbatas dengan usia.
d.      Bimbingan dan konseling dapat di laksanakan dengan macam-macam sifat, yaitu secara: (1) preventif, yaitu bimbingan dan konseling diberikan dengan tujuan untuk mencegah jangan sampai timbul kesulitan-kesulitan yang menimpa diri anak atau individu; (2) korektif, yaitu memecahkan atau mengatasi kesulitan-kesulitan yang di hadapi oleh anak atau individu; (3) preservatif, yaitu memelihara atau mempertahan kan yang telah baik, jangan sampai menjadi keadaan-keadaan yang tidak baik.
e.       Bimbingan dan konseling merupakan proses yang kontinu. Bimbingan dan konseling harus di berikan secara kontinu, dan diberikan kepada orang-orang yang mempunyai kewenangan dalam hal tersebut. Dengan demikian tidak semua orang boleh memberikan bimbingan dan konseling.
f.       Berhubungan dengan hal tersebut maka para guru mempunyai pengetahuan mengenai bimbingan dan konseling, karena mereka selalu berhadapan langsung dengan murid yang mungkin perlu mendapatkan bimbingan. Kalau keadaan memungkinkan ada baiknya persoalan yang dihadapi murid di selesaikan oleh guru sendiri, tetapi kalau tidak mungkin maka dapat di serahkan kepada pembimbing.
g.      Didalam memberilan bimbingan dan konseling, pembimbing harus selalu ingat untuk menuju kepada kesanggupan individu agar dapat membimbing diri sendiri.

E.     IMPLEMENTASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Implementasi program adalah tahap melaksanakan semua jenis layanan dan kegiatan yang sudah di rancang. Dalam implementasi program bimbingan dan konseling, para konselor dan guru pembimbing memegang peranan penting, merka merupakan ujung tombak pelaksanaan program. Konselor dan  guru pembimbing selain di tuntut memiliki pengetahuan dan keterampilan sesaui dengan tugasnya, juga dituntut untuk memiliki semangat kerja yang tinggi, rasa cinta terhadap tugasnya, kesungguhan, ketekunan dan kesediaan memberikan layanan demi kepentingan siswa.
Pemberian layanan bimbingan dan konseling membutuhkan kerja sama, kekompakan, saling mengerti, saling membantu dan saling menunjang di antara para pelaksananya. Meskipun suatu layanan mungkin menjadi tugas dan rencana dari konselor dan guru pembimbing, tetapi dalam pelaksanaannya sering kali menuntut partisipasi dan bantuan dari pelaksana pendidik lainnya.

Keberhasilan implementasi program bimbingan dan konseling selain tergantung pada kinerja para pengelola dan pelaksananya, yaitu kepala sekolah, ketua tim BK, dan para konselor atau guru pembimbing, juga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana. Komunikasi dan kerja sama anatartim BK dapat membantu memudahkan mendapatkan instrument dan bahan yang di perlukan dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling.

Wednesday, 13 April 2016

second language acqusition



CHAPTER I
OPENING

1.      BACKGROUND
In the first part of this work, the learnability issue hasbeen considered from primary language perspective. The 'logicalproblem of acquisition' and the 'poverty of stimulus' argumentlead to the well-known idea of an innate language faculty at work.
Second language acquisition as the process of learning another language after the basic of the first have been acquired, starting at about five years of age and thereafter. Sometime researchers refer to this process as sequential language acquisition to differentiate it from bilingual ac quistion, which is the acquision of two languages simulataneously from infancy. Apparently, when a young child learns two language at the some time, the principles which govern monolingual first language acquisition apply to the acquisition of both language.
Second language acquisition includes learning a new language in a foreign language context. Second language refer to both foreign and host language and the learning priciple discussed apply to the acquisition of both. Target language refer to the language being learned or taught.
Some arguments in support of the existence of the language facultyin primary acquisition can be usefully employed in second languageacquisition research; on the other hand, first and second languageacquisition present several differences in several respects, whichmakes a comparison between the two processes an arduous task. Thefirst step in trying to make explicit the relationship between L1and L2 processes is to restate the issue in UG terms.










CHAPTER II
EXPLANATION

1.      Concept of sla

a.       Direct negative evidence
It is reasonable to assume that most second languageacquisition occurs in presence of direct negative evidence. Thereare two sources of direct negative evidence, namely, explicitcorrection of ungrammatical forms and explanation of grammaticalrules Both types of evidence are more likely to occur in guidedlearning than in spontaneous learning, where they are limited oreven unavailable.There is agreement among linguists that negative evidence isprovided to adult learners, at least in classroom environment inthe form of correction or explanation of grammar rules, thoughthere is less consensus on the role they assume in the acquisitionprocess. Moreover, the effective use of this type of data insecond language grammar construction"it has been observed that the provision of negativefeedback (i.e. corrections) does not appear to lead tomore accurate performance, at least not immediately.Even when the negative feedback is provided in thecourse of ordinary conversation (i.e. in the form ofexpansions and paraphrases serving as confirmationchecks and requests for clarification), there is stillno evidence to suggest that learner amend his hypothesisimmediately" (Ellis, 1985: 174).
Second language learners do not appear to have control over theirmistakes, nor can they make use of correction in grammarconstruction. Furthermore, a comparison between guided andspontaneous learning demonstrates that in both contexts secondlanguage learners will follow a common route of developmentirrespective of the type of input they receive (Ellis: 1985: 202).In other words, correction of ungrammatical forms does not seem toalter in any way the process of acquisition nor does it seem torule out the role of UG in second language acquisition. On theother hand, the fact that empirical studies on the efficacy ofcorrection have not proved conclusive, "do not mean thatcorrection plays no role in language learning" and that one mayexpect that further research "may also uncover specific situationsin which error correction may be effective". (Dulay, Burt andKrashen, 1982: 36).The role of 'explanatory evidence' is another questionablesource of grammar construction in second language acquisition. Thenature of grammar rules involved in formal instruction is greatlydissimilar from the type of unconscious language knowledge whichcharacterizes UG.

b.       Indirect negative evidence
If certain types of unmarked sentence structures constructionfail to occur in the input data when they are expected to appear,this may constitute indirect evidence of the existence of a markedproperty in the target language grammar. Schwartz (1987: 282)considers this type of data as the relevant one in second languagegrammar construction. In fact, whereas direct negative data"imputes to the language faculty the questionablecapacities of comparing grammatical with ungrammaticalsentences or simply making use of metalinguisticknowledge in its computations, indirect negativeevidence does not".In other words, if UG plays a role in second language acquisition,indirect rather than direct negative evidence is the proper typeof data second language learners rely on.

c.        Simplified registers
The direct counterpart to motherese in second languageacquisition is 'teacher-talk' or 'foreigner-talk', depending onthe situational and environmental context in which they appear.Although simplified, these two forms of adjusted input are used,respectively, by teachers and natives. Crucially, they do notcontain ungrammatical simplifications, but they share some commonsurface properties: slow speech rate, shorter utterances,preference of co-ordination over subordination, use of recurrentforms. Their main function is to facilitate communication andcomprehension with foreign language learners. However, as opposedto motherese, which contributes to the developement of grammarknowledge, "no direct causal relation between teacher- andforeigner-talk and L2 grammatical knowledge exists" (Schwartz,1987: 199). Additional sources of positive input are normallyprovided in guided learning, namely, sample reading and classroomlectures among others.
at least at syntax level. The difference betweensuccessful and unsuccessful learners rests precisely on the factthat, whereas the former receive some perfect (i.e. grammaticallycorrect) L2 input, the latter are submitted to a greater amount ofdegenerated input in the form of interlanguage talk. Somelinguists point out that, actually, first language learnerssometimes get degenerated input as well. Recent studies in childlanguage acquisition demonstrate just the opposite: motherese isnot a form of degenerate input.
2.      the goal of sla
Second language acquisition – naturalistic, instructed, or both – has long been a common activity for a majority of the human species and is becoming ever more vital as second languages themselves increase in importance. In manyparts of the world, monolingualism, not bilingualism or multi lingualism, is the marked case. The 300–400 million people whose native language is English, for example, are greatly outnumbered by the 1–2 billion people for whom it is an official second language. Countless children grow up in societies where they are exposed to one language in the home, sometimes two, another when they travel to a nearby town to attend primary or secondary school, and a third or fourth if they move to a larger city or another province for tertiary education or for work.

3.      The Language Acquisition Device
Earlier theories of language acquisition regarded language acquisition as a process of imitation and reinforcement, a kind of 'habit formation'. According to this view, the child would learn linguistic forms by a process of analogy with other forms. The last decades have marked the decline of this concept of language acquisition. Many observations and studies indicate that the child cannot proceed in the acquisition of language by relying only on a process of analogy. By no means, in fact, can such a process account for the richness of language, creativity and for the complexity of language, given the limitations of data actually available to the child.
Later formulations of grammar acquisition in the context ofgenerativism postulate the existence of some kind of cognitivemechanism governing and permitting the acquisition of language,the 'language acquisition device' (henceforth LAD). It isundeniable that the environment affects L1 learners. In order tolearn a language, children need the incoming data, but alsosomething that allows them to process the data they are exposedto. In the following passage, Chomsky postulates the existence ofLAD:"Having some knowledge of the characteristics of theacquired grammars and the limitations on the availabledata, we can formulate quite reasonable and fairlystrong empirical hypotheses regarding the internalstructure of the language-acquisition device thatconstructs the postulated grammars from the given data"(Chomsky, 1968: 113).According to this view, the content of LAD is a system ofuniversal principles and parameters fixed through the availabledata.
There is agreement among linguists that the process ofacquiring a language is very peculiar and complex. There is,however, not much consensus about the nature of the mechanismwhich governs it. In particular, various proposals have been madeabout the nature of the LAD and its psychological basis.

4.      Universal Grammar theory

a)      Principles and parameters
According to Chomsky (1981b: 7), UG "is taken to be a characterization of the child's pre-linguistic initial state". It consists of "a system of principles with parameters to be fixed,along with a periphery of marked exceptions" (Chomsky, 1986a: 150 - 151). The "core grammar" entails a set of universal principles, which apply in all languages, and a set of parameters which may vary from language to language. By contrast, the "peripheral grammar" is made up of quirks and irregularities of language. The theory of UG must observe two conditions: "on the one hand, it must be compatible with the diversity of existing (indeed possible) grammars. At the same time, UG must be sufficiently constrained and restrictive in the options it permits so as to account for the fact that each of these grammars develops in the mind on the basis of quite limited evidence...[i.e. thelogical problem]. What we expect to find, then, is a highly structured theory of UG based on a number of fundamental principles that sharply restrict the class of attainable grammars and narrowly constrain their form, but with parameters that have to be fixed by experience" (Chomsky, ib.: 3-4).
On the role of parameters in syntactic theory Wexler and Manzini (1987) remark: "parameters have been introduced into linguistic theoryas a solution to the fundamental problem of linguistics:the tension between the existing variety of naturallanguages and the necessity of explaining how c hildrencan actually learn the grammars of their particular languages".
The parameters being part of a 'higher' principle, the set of principles is not increased by their presence (modularity of the model). In this sense, parameters permit the description and explanation of linguistic phenomena, which otherwise would have to be explained by a number of redundant rules; furthermore, the introduction of parameters accounts and limits the range oflinguistic variation across languages.

b)      Subtheories of grammar
The explanation of linguistic phenomena is not the outcome of one single principle but rather the result of the interaction of several principles and parameters. A recent development in syntactic theory which underlies UG is 'Government-Binding Syntax' (Chomsky, 1981b, 1986). The name 'Government-Binding' (henceforth GB) originates from two primary aspects of the overall theory: "bounding theory poses locality conditions on certain processes and related items. The central notion of government theory is the relation between the head of a construction and categories dependent on it. θ-theory is concerned with the assignment of thematic roles such as agent-of-action, etc. [...] Binding theory is concerned with relations of anaphors, pronoun, names and variables to possible antecedents. Case theory deals with assignment of abstract Case and its morphological realization. Control theory determines the potential for reference of the abstract pronominal element PRO" (Chomsky, 1981b: 6).
Each 'module' of the theory is a subcomponent of the general theory: the theory of government deals with the assignment of cases together with the case theory, or it accounts for the referential possibilities in the sentence together with the binding theory; bounding theory limits the distance that an item may move. The range of variation across languages is defined by parameters which can be fixed either to the negative or the positive value of each single language. UG theory is closely linked to the learnability issue. In order to have an idea of what UG may consist of and the relevance for language acquisition, some of its meaningful principles and parameters formulated by linguists will be mentioned.

c)      Structure-dependence
Structure-dependence is a universal principle holding across all syntactic categories of language. There is no language in the world which contravenes this principle: "grammatical transformations are necessarily structuredependent, in that they manipulate substrings only in terms of their assignment to categories" (Chomsky, 1965:55).

CHAPTER III
CLOSING
A.    CONLUSION
All in all, despite the differences between first and secondacquisition processes, the consideration of the poverty ofstimulus argument seems to hold true in second languageacquisition process as well. On the reasonably fair assumptionthat much L2 knowledge is underdetermined, two equally possiblesolutions to the logical problem of second language acquisitioncan be formulated, which correspond to the Fundamental Difference
Hypothesis and Fundamental Identity Hypothesis:
1)      UG is no longer available to adult second languagelearners, though they may tap first language competence insecond language grammar construction. Second languageacquisition is the product of some general problem-solvingmechanism which proceeds on a basis of trial and error. Thisview is supported, among others, by Bley-Vroman (1989: 53)
2)      adult second language learners do have (partial) access toUG, namely, they still use actively the language faculty insecond language acquisition. Furthermore, they are alsosupposed to have access to first language abstract propertiesof language (Flynn, 1988: 179; Clahsen and Muysken, 1989:23).
In the following chapters the second solution is supported. In fact, implicit in the parameter-setting view of second languageacquisition is the idea that UG principles and (perhaps)parameters are still an active force, though reduced, in secondlanguage grammar construction.






BIBLIOGRAPHY

Dulay, Heidi. 1982. Language Two. New York: Oxford University Press

Monday, 19 October 2015

mendidik anak usia remaja

Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Memasuki Usia Remaja?
Mendidik anak usia remaja merupakan salah satu fase paling berat yang dihadapi oleh sebagian besar orang tua. Di masa ini, anak-anak cenderung akan berubah sikap menjadi seorang pemberontak yang suka melawan orang tua dan berpikiran labil karena di usia inilah mereka sedang mencari tahu jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka merasa bahwa diri mereka adalah yang paling benar dan mereka pun juga memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap semua hal. Usia remaja biasanya dimulai ketika anak-anak mulai duduk di bangku SMP atau Sekolah Menengah Pertama dan berakhir setelah mereka mulai memasuki tahun akhir di SMA atau Sekolah Menengah Atas. Anak-anak yang memasuki pubertas atau masa remaja sangatlah rawan dan sangat perlu untuk diawasi agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal yang menyimpang. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak yang sedang memasuki usia remaja? Berikut adalah sedikit tipsnya untuk anda.

Hal yang Perlu Anda Lakukan

Hal pertama yang perlu anda lakukan saat mendidik anak usia remaja adalah pintar-pintar memposisikan diri. Jangan selalu tempatkan posisi anda sebagai orang tua yang berkuasa dan yang harus selalu dipatuhi. Anda harus pintar dan jeli dalam menilai situasi sehingga anda bisa menempatkan diri anda dengan peran yang tepat. Misalnya, ketika anak anda sedang mengalami masalah di sekolah, jangan buru-buru memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan omelan. Hal itu justru akan memicu kemarahannya dan ketidaksukaannya pada kehadiran anda. posisikan diri anda sebagai teman yang bisa dipakai sebagai tempat untuk mencurahkan keluh kesah. Biarkan kepercayaannya pada anda tumbuh secara perlahan. Dan ingatlah, terkadang mereka hanya membutuhkan anda sebagai tempat untuk mendengarkan keluh kesah dan bukan untuk mencari nasehat. Jika ia tidak bertanya, jangan berikan nasehat yang terlalu panjang dan terkesan menghakimi. Kedua, berikan pendidikan agama yang kuat sejak mereka kecil agar mereka tidak terjerumus pada kehidupan yang kelam. Cari tahu apakah anak anda mendapatkan pendidikan seks dan narkoba yang cukup di sekolah serta berikan pendidikan tambahan mengenai hal tersebut dengan tepat di rumah agar mereka tidak penasaran atau tergoda untuk mencoba berhubungan seks maupun mencoba narkoba. Ketiga, jangan mengekang anak remaja anda terlalu ketat. Ketika anda mengikatnya terlalu kencang, mereka justru akan semakin mencoba untuk lari dan berontak kepada anda. Sebaiknya gunakan metode tarik ulur agar mereka bisa lebih menghargai anda dan berikan batasan-batasan khusus yang membuat mereka bisa merasa bebas namun tetap terkontrol.

Hal-Hal yang Perlu untuk Dihindari
Pertama, jangan gunakan kata makian saat menegur atau memarahi mereka. ketika anda menggunakan kata-kata cacian atau kasar saat anda marah, kata-kata tersebut akan terus terngiang di pikiran mereka. Semakin lama disimpan, semakin besar pula kesempatan untuk mereka berubah menjadi membenci anda. Kata makian atau kata kasar dapat melukai perasaan mereka dan menimbulkan sakit hati sehingga mereka pun juga terpacu untuk melakukan hal yang sama kepada anda. Kedua, sebisa mungkin jangan gunakan kekerasan untuk menegur mereka. Penggunaan kekerasan pada remaja hanya akan membuat hubungan anda dengan anak-anak menjadi renggang dan mereka bisa terpicu untuk semakin berontak.

Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Memasuki Usia Remaja?

Mendidik anak usia remaja merupakan salah satu fase paling berat yang dihadapi oleh sebagian besar orang tua. Di masa ini, anak-anak cenderung akan berubah sikap menjadi seorang pemberontak yang suka melawan orang tua dan berpikiran labil karena di usia inilah mereka sedang mencari tahu jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka merasa bahwa diri mereka adalah yang paling benar dan mereka pun juga memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap semua hal. Usia remaja biasanya dimulai ketika anak-anak mulai duduk di bangku SMP atau Sekolah Menengah Pertama dan berakhir setelah mereka mulai memasuki tahun akhir di SMA atau Sekolah Menengah Atas. Anak-anak yang memasuki pubertas atau masa remaja sangatlah rawan dan sangat perlu untuk diawasi agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal yang menyimpang. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak yang sedang memasuki usia remaja? Berikut adalah sedikit tipsnya untuk anda.

Hal yang Perlu Anda Lakukan

Hal pertama yang perlu anda lakukan saat mendidik anak usia remaja adalah pintar-pintar memposisikan diri. Jangan selalu tempatkan posisi anda sebagai orang tua yang berkuasa dan yang harus selalu dipatuhi. Anda harus pintar dan jeli dalam menilai situasi sehingga anda bisa menempatkan diri anda dengan peran yang tepat. Misalnya, ketika anak anda sedang mengalami masalah di sekolah, jangan buru-buru memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan omelan. Hal itu justru akan memicu kemarahannya dan ketidaksukaannya pada kehadiran anda. posisikan diri anda sebagai teman yang bisa dipakai sebagai tempat untuk mencurahkan keluh kesah. Biarkan kepercayaannya pada anda tumbuh secara perlahan. Dan ingatlah, terkadang mereka hanya membutuhkan anda sebagai tempat untuk mendengarkan keluh kesah dan bukan untuk mencari nasehat. Jika ia tidak bertanya, jangan berikan nasehat yang terlalu panjang dan terkesan menghakimi. Kedua, berikan pendidikan agama yang kuat sejak mereka kecil agar mereka tidak terjerumus pada kehidupan yang kelam. Cari tahu apakah anak anda mendapatkan pendidikan seks dan narkoba yang cukup di sekolah serta berikan pendidikan tambahan mengenai hal tersebut dengan tepat di rumah agar mereka tidak penasaran atau tergoda untuk mencoba berhubungan seks maupun mencoba narkoba. Ketiga, jangan mengekang anak remaja anda terlalu ketat. Ketika anda mengikatnya terlalu kencang, mereka justru akan semakin mencoba untuk lari dan berontak kepada anda. Sebaiknya gunakan metode tarik ulur agar mereka bisa lebih menghargai anda dan berikan batasan-batasan khusus yang membuat mereka bisa merasa bebas namun tetap terkontrol.

Hal-Hal yang Perlu untuk Dihindari
Pertama, jangan gunakan kata makian saat menegur atau memarahi mereka. ketika anda menggunakan kata-kata cacian atau kasar saat anda marah, kata-kata tersebut akan terus terngiang di pikiran mereka. Semakin lama disimpan, semakin besar pula kesempatan untuk mereka berubah menjadi membenci anda. Kata makian atau kata kasar dapat melukai perasaan mereka dan menimbulkan sakit hati sehingga mereka pun juga terpacu untuk melakukan hal yang sama kepada anda. Kedua, sebisa mungkin jangan gunakan kekerasan untuk menegur mereka. Penggunaan kekerasan pada remaja hanya akan membuat hubungan anda dengan anak-anak menjadi renggang dan mereka bisa terpicu untuk semakin berontak.
- See more at: http://bidanku.com/forum/showthread.php/92-Bagaimana-Cara-Mendidik-Anak-yang-Memasuki-Usia-Remaja#sthash.1WPZu7MZ.dpuf

Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Memasuki Usia Remaja?

Mendidik anak usia remaja merupakan salah satu fase paling berat yang dihadapi oleh sebagian besar orang tua. Di masa ini, anak-anak cenderung akan berubah sikap menjadi seorang pemberontak yang suka melawan orang tua dan berpikiran labil karena di usia inilah mereka sedang mencari tahu jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka merasa bahwa diri mereka adalah yang paling benar dan mereka pun juga memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap semua hal. Usia remaja biasanya dimulai ketika anak-anak mulai duduk di bangku SMP atau Sekolah Menengah Pertama dan berakhir setelah mereka mulai memasuki tahun akhir di SMA atau Sekolah Menengah Atas. Anak-anak yang memasuki pubertas atau masa remaja sangatlah rawan dan sangat perlu untuk diawasi agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal yang menyimpang. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak yang sedang memasuki usia remaja? Berikut adalah sedikit tipsnya untuk anda.

Hal yang Perlu Anda Lakukan

Hal pertama yang perlu anda lakukan saat mendidik anak usia remaja adalah pintar-pintar memposisikan diri. Jangan selalu tempatkan posisi anda sebagai orang tua yang berkuasa dan yang harus selalu dipatuhi. Anda harus pintar dan jeli dalam menilai situasi sehingga anda bisa menempatkan diri anda dengan peran yang tepat. Misalnya, ketika anak anda sedang mengalami masalah di sekolah, jangan buru-buru memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan omelan. Hal itu justru akan memicu kemarahannya dan ketidaksukaannya pada kehadiran anda. posisikan diri anda sebagai teman yang bisa dipakai sebagai tempat untuk mencurahkan keluh kesah. Biarkan kepercayaannya pada anda tumbuh secara perlahan. Dan ingatlah, terkadang mereka hanya membutuhkan anda sebagai tempat untuk mendengarkan keluh kesah dan bukan untuk mencari nasehat. Jika ia tidak bertanya, jangan berikan nasehat yang terlalu panjang dan terkesan menghakimi. Kedua, berikan pendidikan agama yang kuat sejak mereka kecil agar mereka tidak terjerumus pada kehidupan yang kelam. Cari tahu apakah anak anda mendapatkan pendidikan seks dan narkoba yang cukup di sekolah serta berikan pendidikan tambahan mengenai hal tersebut dengan tepat di rumah agar mereka tidak penasaran atau tergoda untuk mencoba berhubungan seks maupun mencoba narkoba. Ketiga, jangan mengekang anak remaja anda terlalu ketat. Ketika anda mengikatnya terlalu kencang, mereka justru akan semakin mencoba untuk lari dan berontak kepada anda. Sebaiknya gunakan metode tarik ulur agar mereka bisa lebih menghargai anda dan berikan batasan-batasan khusus yang membuat mereka bisa merasa bebas namun tetap terkontrol.

Hal-Hal yang Perlu untuk Dihindari
Pertama, jangan gunakan kata makian saat menegur atau memarahi mereka. ketika anda menggunakan kata-kata cacian atau kasar saat anda marah, kata-kata tersebut akan terus terngiang di pikiran mereka. Semakin lama disimpan, semakin besar pula kesempatan untuk mereka berubah menjadi membenci anda. Kata makian atau kata kasar dapat melukai perasaan mereka dan menimbulkan sakit hati sehingga mereka pun juga terpacu untuk melakukan hal yang sama kepada anda. Kedua, sebisa mungkin jangan gunakan kekerasan untuk menegur mereka. Penggunaan kekerasan pada remaja hanya akan membuat hubungan anda dengan anak-anak menjadi renggang dan mereka bisa terpicu untuk semakin berontak.
- See more at: http://bidanku.com/forum/showthread.php/92-Bagaimana-Cara-Mendidik-Anak-yang-Memasuki-Usia-Remaja#sthash.1WPZu7MZ.dpuf

Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Memasuki Usia Remaja?

Mendidik anak usia remaja merupakan salah satu fase paling berat yang dihadapi oleh sebagian besar orang tua. Di masa ini, anak-anak cenderung akan berubah sikap menjadi seorang pemberontak yang suka melawan orang tua dan berpikiran labil karena di usia inilah mereka sedang mencari tahu jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka merasa bahwa diri mereka adalah yang paling benar dan mereka pun juga memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap semua hal. Usia remaja biasanya dimulai ketika anak-anak mulai duduk di bangku SMP atau Sekolah Menengah Pertama dan berakhir setelah mereka mulai memasuki tahun akhir di SMA atau Sekolah Menengah Atas. Anak-anak yang memasuki pubertas atau masa remaja sangatlah rawan dan sangat perlu untuk diawasi agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal yang menyimpang. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak yang sedang memasuki usia remaja? Berikut adalah sedikit tipsnya untuk anda.

Hal yang Perlu Anda Lakukan

Hal pertama yang perlu anda lakukan saat mendidik anak usia remaja adalah pintar-pintar memposisikan diri. Jangan selalu tempatkan posisi anda sebagai orang tua yang berkuasa dan yang harus selalu dipatuhi. Anda harus pintar dan jeli dalam menilai situasi sehingga anda bisa menempatkan diri anda dengan peran yang tepat. Misalnya, ketika anak anda sedang mengalami masalah di sekolah, jangan buru-buru memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan omelan. Hal itu justru akan memicu kemarahannya dan ketidaksukaannya pada kehadiran anda. posisikan diri anda sebagai teman yang bisa dipakai sebagai tempat untuk mencurahkan keluh kesah. Biarkan kepercayaannya pada anda tumbuh secara perlahan. Dan ingatlah, terkadang mereka hanya membutuhkan anda sebagai tempat untuk mendengarkan keluh kesah dan bukan untuk mencari nasehat. Jika ia tidak bertanya, jangan berikan nasehat yang terlalu panjang dan terkesan menghakimi. Kedua, berikan pendidikan agama yang kuat sejak mereka kecil agar mereka tidak terjerumus pada kehidupan yang kelam. Cari tahu apakah anak anda mendapatkan pendidikan seks dan narkoba yang cukup di sekolah serta berikan pendidikan tambahan mengenai hal tersebut dengan tepat di rumah agar mereka tidak penasaran atau tergoda untuk mencoba berhubungan seks maupun mencoba narkoba. Ketiga, jangan mengekang anak remaja anda terlalu ketat. Ketika anda mengikatnya terlalu kencang, mereka justru akan semakin mencoba untuk lari dan berontak kepada anda. Sebaiknya gunakan metode tarik ulur agar mereka bisa lebih menghargai anda dan berikan batasan-batasan khusus yang membuat mereka bisa merasa bebas namun tetap terkontrol.

Hal-Hal yang Perlu untuk Dihindari
Pertama, jangan gunakan kata makian saat menegur atau memarahi mereka. ketika anda menggunakan kata-kata cacian atau kasar saat anda marah, kata-kata tersebut akan terus terngiang di pikiran mereka. Semakin lama disimpan, semakin besar pula kesempatan untuk mereka berubah menjadi membenci anda. Kata makian atau kata kasar dapat melukai perasaan mereka dan menimbulkan sakit hati sehingga mereka pun juga terpacu untuk melakukan hal yang sama kepada anda. Kedua, sebisa mungkin jangan gunakan kekerasan untuk menegur mereka. Penggunaan kekerasan pada remaja hanya akan membuat hubungan anda dengan anak-anak menjadi renggang dan mereka bisa terpicu untuk semakin berontak.
- See more at: http://bidanku.com/forum/showthread.php/92-Bagaimana-Cara-Mendidik-Anak-yang-Memasuki-Usia-Remaja#sthash.1WPZu7MZ.dpuf