Friday, 9 October 2015

BIMBINGAN DAN KONSELING



Pengertian bimbingan dan konseling


A.       Bimbingan
                                               
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendir
B.      Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.

C. FUNGSI
a.       Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
b.      Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
c.       Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
d.      Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
e.       Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
f.       Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
g.      Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
h.      Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
i.        Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
j.        Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.

Wednesday, 7 October 2015

filsafat pendidikan


A.    FILSAFAT
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata  philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang dan suka, serta kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan (Ali, 1986:7). Hasan Shadily (1984: 9) mengatakan bahwa filsafat menurut asl katanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian, dapat ditarik  pengertian bahwa filsafat adalah cinta pada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi, orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah, dan bijaksana.

a.  Definisi Filsafat Menurut Para Filsuf Secara Terminologi
1. Plato (427SM-347SM) (Filsuf Yunani Kuno) Seorang Filsuf Yunani yang termasyhur, murid Socrate dan guru Aristoteles, mengatakan; Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).

2. Aristoteles (384SM-322SM) (Filsuf Yunani Kuno) Mengatakan; Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda)

3. Marcus Tullius Cicero (106SM-43SM) (Filsuf Romawi Kuno) Seorang politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan bahwa; Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang Maha Agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.

 4. Al-Farabi (950M) (Filsuf Islam di Dunia Timur) Filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Shina, mengatakan; Filsafat adalah Ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

5. Prof. Dr. Fuad Hasan (Guru Besar Psikologi UI) Beliau menyimpulkan bahwa; Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu Filsafat  berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.

6. Drs. H. Hasbullah Bakry (Pengarang Buku) Beliau merumuskan; Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauhnya yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

7. Rene Descartes (Filsuf Perancis) Menurut Rene Descrates, Filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.

8. Francis Bacon (Filsuf Inggris) Menurut Francis Bacon, Filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan dari bidangnya.

9. Jhon Dewey (Filsuf Amerika Serikat, Penganut Madzhab Pragmatisme) Sebagai tokoh Pragnatis, Jhon Dewey berpendapat bahwa filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara teru-menerus dalam upaya melakukan penyasuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap
kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan yang tidak sejalan dengan wewenang yang diakui. Tegasnya, filsafat sebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian diantara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan.

10. Epicuros (Filsuf Yunani, Pendiri Madzhab Epikuros) Epicuros memandang filsafat sebagai jalan mencari kepuasan dan kesenangan dalam hidup. Filsafat berguna untuk praktek hidup didunia. Ia membentuk pandangan dunia dan sikap hidup, dengan terjawabnya masalah-masalah yang rumit (menggelisahkan filosof), puaslah dia. Pengertian sempit membawa orang sempit berfikir. Filsafat membawa kepada berfikir luas dan dalam sehingga menimbulkan kepuasan.

11. Gottfried Leibniz (Filsuf Jerman) Leibniz membandingkan filsafat dengan akar suatu pohon, maka dahan-dahan pohon itu terjadi dari ilmu yang lain satu demi satu. Dahan tumbuh dan diberi makan oleh akar. Tanpa akar dahan itu akan layu dan akan mati. Demikian  perbandingan antara filsafat dan ilmu.

psikoligi pendidikan

pengertian psikologi pendidikan menurut para ahli

 

Pengertian Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli - Untuk menjalankan profesinya sebagai pendidik khususnya seorang guru sangat memerlukan banyak pengetahuan dan ketrampilan yang memadai sesuai tuntutan dan kemajuan sains dan teknologi. Diantara pengetahuan yang diperlukan seorang guru juga calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan dengan pendekatan baru yang sangat erat kaitannya dengan proses belajar mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan psikologi terapan itulah psikologi pendidikan ini disusun. Disini akan dijelaskan pengertian psikologi pendidikan itu sendiri dan ruang lingkupnya.
Psikologi Pendidikan
Psikologi atau biasa disebut dengan ilmu jiwa berasal dari kata bahasa inggris psycology yang merupakan dua akar kata dari bahasa greek (Yunani) yakni psyche artinya jiwa dan logos yang artinya ilmu. Jadi secara bahasa psikologi berarti ilmu jiwa. Pendidikan berasal dari kata "didik" yang jika mendapat awalan "me" berati "mendidik" yang artinya memberikan pelatihan atau memelihara. Dalam memelihara pasti diperlukan tuntunan, ajaran, mengenai sikap, akhlak dan binaaan kecerdasan pikiran. Pengertian pendidikan menurut KBBI adalah suatu proses pengubahan sikap, akhlak dan perilaku individu atau kelompok orang dalam upaya mendewasakan melalui pelatihan dan pengajaran. Jadi, psikologi pendidikan adalah ilmu yang menjelaskan tentang kegiatan individu dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dalam suatu proses pendidikan. Psikologi pendidikan sangat berkaitan dengan bagaimana siswa itu belajar dan berkembang.

Adapun pengertian psikologi menurut beberapa ahli antara lain:

  1. Menurut Muhibin Syah, psikologi pendidikan adalah suatu disiplin ilmu dari bidang psikologi yang menyelidiki masalah psikologi anak yang terjadi dalam dunia pendidikan. 
  2. Menurut Bruno pengertian psikologi terbagi dalam tiga bagian yang pada hakikatnya saling berhubungan satu sama lain.
    • Psikologi ialah Pendidikan (studi) mengenai “ruh”.
    • Psikologi ialah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental.
    • Psikologi ialah ilmu pengetahuan berkenaan dengan tingkah laku organisme. 
  3. Alice Crow mengatakan psikologi pendidikan adalah studi tentang belajar, pertumbuhan, kematangan seorang individu dan penerapan prinsip-prinsip ilmiah mengenai reaksi manusia yang mempengaruhi belajar mengajar.
Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Yang dimaksud ruang lingkup psikologi pendidikan adalah apa saja yang dibahas dalam ilmu psikologi pendidikan. Secara luas biasanya membahas tentang proses, lingkungan dan hereditas, evaluasi belajar, perkembangan, kesehatan mental dan lain sebagainya. Pada dasarnya dalam psikologi pendidikan itu membahas tentang hal-hal sebagai berikut :
  1. Lingkungan dan hereditas 
  2. Pertumbuhan dan perkembangan anak didik 
  3. Potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik 
  4. Hasil dari sebuah proses pendidikan dan berpengaruh kepada individu yang sifatnya personal juga sosial 
  5. Higiene Mental dan Pendidikan dari peserta didik 
  6. Evaluasi dari hasil pendidikan.
Sedangkan menurut Soerjabrata ruang lingkup bidang psikologi pendidikan dapat dilihat dari segi situasi dan dari proses belajar yang dijadikan pusatnya adalah kajian psikologi tentang anak didik dalam peninjauan yang statis dan dinamis dalam situasi belajar dan proses pendidikan didalam kelasnya.